[menulis apa yang terpikir]

[menulis apa yang terpikir]

tempat mencurahkan apa yang ada di kepala

[menulis apa yang terpikir] RSS Feed
 
 
 
 

terpikir punya nama unik

Aku adalah cucu pertama dari anak pertama di keluarga Tambunan. Sedikit berbeda, dari keluarga Siahaan [ibuku] juga, aku adalah cucu pertama. Bedanya, bukan dari anak pertama. Karena, sebelum ibuku, Ompung sudah lebih dahulu memiliki Tulang dan Inang Tua [uwak] yang belum menikah pada saat aku lahir. Dengan posisi demikian, wajar kehadiranku disambut dengan penuh sukacita. Baik oleh keluarga Tambunan maupun oleh keluarga Siahaan. Konon, itu pulalah yang menyebabkan orangtuaku memberi nama Goklas padaku. Sebuah kata dalam bahasa Batak yang dibangun dari dua kata. Gok yang berarti penuh dan Las yang berarti sukacita. Kata las sendiri bisa bermakna panas. Namun dalam konteks namaku, gabungan kedua kata tersebut [Gok dan Las] serta dalam penggunaan sehari-hari, Goklas lebih sering berarti penuh sukacita.

Aku tidak terlalu ingat, kapan persisnya aku mengetahui dengan benar pengertian namaku ini. Karena ketika masih bersekolah di Sekolah Dasar, aku masih sempat salah mengira kalau namaku berarti penuh panas. Sebagaimana juga beberapa warga Batak yang nota bene, berbahasaibukan bahasa Batak, sering salah mengartikan nama itu. Mungkin hampir sama banyaknya dengan mereka yang salah dalam mengucapkan nama itu menjadi g o l k a s, dan tidak menyadari ada makna dalam gabungan dua kata itu :-(.

Sewaktu kanak-kanak, sempat juga aku merasa seperti ‘terbebani’ oleh nama itu. Beban dalam pengertian, aku sempat kecewa kenapa harus bernamakan ‘aneh’ seperti itu. Tidak seperti nama teman yang menggunakan David, Robert, Kristian atau nama keren lain. Rasa kecewa itu sempat terobati saat kelas empat SD dan tinggal di sekitar Simpang Limun Medan, aku bertetangga dengan seorang anak yang bernamakan sama. Sejak saat itu, aku seolah memasang telinga mencaritau, seberapa banyak sebenarnya orang yang bernama sama denganku. Ternyata pekerjaan iseng ini membuahkan hasil. Dari yang aku dengar dan baca, banyak juga yang bernamakan Goklas. Semasa SMP, aku pernah membaca sebuah nama yang sama di majalah HAI. Pernah juga aku add seseorang di jaringan pertemanan, hanya karena nama kami sama. Tanpa pernah tau atau kenal sebelumnya dengan dia.

Terkait dengan penyebutan yang salah oleh mereka yang berbahasaibu Batak, aku pernah ngotot pada saat ngobrol dengan seorang Direktur di tempatku bekerja. Ngotot, karena aku mengetahui, Beliau ini berasal dari kota yang sama dengan orang tuaku Balige [Kabupaten Toba Samosir]. Selama berbincang dengannya, sempat dua kali aku ‘protes’ terhadap sapaannya terhadapku yang menjadi N i k o l a s. Pertama aku koreksi, sepertinya dia mengerti. Namun, saat dalam pembicaraan seterusnya beliau masih salah dalam menyebut namaku, aku sampai mengingatkan kalau namaku punya makna indah. Aku sampai ingatkan kalau nama itu, adalah satu kata dari bahasa Batak. Namun tetap saja si Bapak menyapaku dengan Nikolas. HUH. Padahal aku tau beliau juga memiliki nama yang berasal dari bahasa Batak. Belakangan aku ketahui dari beberapa teman, setelah menceritakan ‘kekesalanku’ terhadap kesalahan itu, bahwa si Bapak memang senang mengganti nama orang :-p.

Setelah pernah merasa terbebani menyandang nama itu, seiring dengan pertambahan usia, ada rasa bangga karena menyandang nama itu. Rasa bangga itu, bahkan aku ungkapkan dengan ‘marah’ saat mereka yang satu suku denganku, menyebut artinya dengan penuh panas. Namun aku masih bisa memaklumi apabila mereka yang salah itu, hanya sekedar satu suku denganku. Aku akan lebih ‘marah’ lagi apabila kesalahmengertian makna itu dilakukan mereka yang aku tau berbahasaibukan Batak.

Rasa marah itu juga sering aku tunjukkan saat menjawab panggilan telepon. Bila saat menjawab telepon, aku mendengar “Boleh bicara dengan Bapak Golkas Tambunan?” aku akan langsung bilang, “Maaf….tidak ada yang bernama Golkas Tambunan disini. Adanya G o k l a s Tambunan”. Kalau sudah begini, biasanya buru-buru penelepon akan minta maaf.

Hari ini aku terpikir, memiliki nama unik, ternyata punya berkah sendiri. Dari mailing list dan jaringan pertemanan aku mendapat beberapa teman baru karena nama unik itu. Diawali dari mereka menyangka aku adalah teman mereka pada beberapa waktu lalu. Namun setelah aku melakukan klarifikasi, dan sedikit menerangkan tentang diriku, ketahuan bahwa ternyata aku disangka temannya. Biasanya setelah itu aku dan mereka yang salah sangka di awal itu akan menjadi sahabat meski baru melalui dunia maya :-).

terpikir hadir di pestablogger 2008

Usai sudah Pestablogger 2008. Pagi ini, akhirnya aku bisa hadir meski agak terlambat karena musti mengerjakan sesuatu di kantor terlebih dahulu.

Acara diawali dengan kata sambutan dari Om Wicak yang kali ini menduduki posisi sebagai Manusia Kursi. Saat berpidato, beliau sempat menyebut sebuah nama sebagai Manusia Kursi tahun depan. Terus terang aku lupa siapa yang disebut. Tapi menurutku, mungkin inilah cara ‘petinggi-petinggi’ pesta blogger untuk melakukan suksesi dalam kepengurusan [panitia] setiap tahunnya. Mengingat bahwa bentuk ‘organisasi’ ini berbeda. Tidak seperti organisasi lain yang memiliki pengurus yang mungkin pemilihannya diadakan secara berkala oleh anggotanya.

Perbedaan ini, mungkin disebabkan oleh kumpul-kumpul anggota organisasinya sebih banyak dilakukan lewat dunia maya. Entah sudah ada yang memikirkan atau belum, mungkin sudah saatnya dipikirkan sebuah wadah organisasi untuk ini. Minimal untuk menjadi pengurus kepanitiaan. Apalagi mengingat bahwa pemerintah [meski hanya melalui salah satu atau beberapa anggota kabinet] telah mengakomodir keberadaan blogger dengan adanya Hari Blogger Indonesia. Juga karena ada niat untuk melaksanakan pesta semacam ini setiap tahun.

Sesuai dengan tema pesta tahun ini yang Blogging for Society, pada saat acara ditampilkan beberapa profil dari komunitas blogger yang berasal dari berbagai daerah. Kepada beberapa diantara mereka, panitia memberi penghargaan. Selamat buat Bali Blog Community dan CahAndong. Untuk pertama kalinya juga, pesta tahun ini menyelenggarakan kompetisi fotografi. Tapi, karena pulang ditengah acara, aku tidak sempat mengikuti pengumuman pemenangnya.

Pemerintah sendiri ‘mengirimkan’ tiga orang perwakilannya pada pesta kali ini. Satu orang Menteri dan dua pejabat eselon satu. Dan dari ketiganya, hanya pak Kusmayanto dan pak Tjahyana yang ‘nyambung’ dengan acara yang dihadiri. Bapak satunya, hanya membaca pesan dari atasan tanpa ada nilai tambah. HUH…berasa berada di jaman eyang dulu :-p. Namun aku setuju dengan apa yang disampaikan oleh ‘perwakilan’ pemerintah dalam sambutannya. Bahwa pesta kali ini mengingatkan peserta pada peristiwa delapan puluh tahun lalu. Saat pemuda perwakilan dari beberapa daerah di Indonesia berkumpul dan menyatakan sumpahnya.

Acara bincang-bincang menenai tema pesta dengan beberapa ‘pemilik’ blog yang sesuai dengan tema pesta dipandu oleh Enda Nasution. Demikian juga saat bincang-bincang dengan blogger mancanegara. Heran juga. Kenapa Enda yang dari panggung sempat disebut sebagai Bapak Blogger Indonesia, musti memandu dua acara. Harusnya diberi kepada yang lain. Aku berpikir, mungkin kerena bentuk kepanitiaannya yang dikerjakan dengan sukarela. Soal Enda ini, sempat berasa agak aneh. Merasa aneh, karena terdengar ada pertanyaan dari kursi di belakangku, bertanya siapa sebenarnya Enda Nasutiaon itu. Berasa aneh, karena menurutku ada kontradiksi antara sebutan itu dengan pertanyaan yang muncul. Namun aku segera sadar, karena merasa memang tidak ada keharusan semua blogger yang hadir mengenal Enda. hehehehehe.

Dari komentar yang masuk di situs pesta, ada juga yang ‘menyentil’ soal suasana makan siang yang katanya mirip pengungsi. Menurutku hal tersebut bukanlah masalah besar. Mengingat bahwa sebenarnya pesta ini merupakan ajang ‘kopi darat’ dari blogger yang mungkin selama ini hanya berbagi komentar di blog masing-masing. Sebagaimana ajang kopi darat yang biasanya dilaksanakan oleh berbagai mailing list, yang utama sebenarnya acara ketemuannya. Acara ngobrol-ngobrolnya. Soalnya hal tersebut mungkin tidak dapat dilakukan dengan bebas di dalam auditorium. Jadi acara makan siang adalah pelampiasannya :-D.

Dari yang aku lihat, banyak peserta yang mungkin janjian untuk bertemu di pesta ini. Atau datang bersama-sama. Bahkan ada yang membawa anak. Entah itu balita, batita dan harus digendong selama acara berlangsung. Mungkin hanya sedikit yang tetap nekat datang, meski harus datang sendirian dan dan duduk manis sendiri tidak berbaur seperti aku…hahahahaha..

Anjungan sponsor juga banyak. Mulai dari penyedia jasa telepon, organisasi nirlaba, media, perangkat teknologi, hingga pada Kedutaan Besar Amerika Serikat. Dan seperti biasa, anjungan yang memberi oleh-oleh agak ramai dikunjungi oleh peserta. Aku sendiri pulang dengan menenteng empat buku mengenai Amerika Serikat.

Di ruang sebelah ruang utama, tepatnya di kantin BPPT, panitia menyediakan hiburan berupa musik hidup. Yang sempat aku lihat penampilannya adalah Endah N Rhesa yang ditemani oleh seorang pemain keyboard yang tuna netra. Sambil bermain musik, mereka mempromosikan album garapan mereka yang hasil penjualannya diniatkan untuk membantu proyek pengadaan buku untuk kaum tuna netra lewat Gerakan Seribu Buku untuk Tuna Netra !

Pesta tahun ini juga menghadirkan beberapa blogger tamu yang berasal dari mancanegara. Yang bahkan seorang diantara para tamu tersebut, merupakan seorang politisi dari negara tetangga. Dua orang diantaranya bahkan sempat unjuk kebolehan bernyanyi bersama Enda N Rhesa di kantin. Dalam bernyanyi, sempat juga keduanya bergoyang sekenanya, mengingat lagu yang dinyanyikan memiliki tempo yang lumayan cepat hingga terasa tidak asyik juga dinyanyikan seperti bernyanyi di depan kelas :-).

Secara garis besar, aku pikir mungkin pesta blogger ini bisa dibilang sukses. Baik dari konten cara yang disusun maupun dari hiburan yang diberikan. Karena aku baca dari situs facebook Maylaffayza, blogger yang kebetulan seorang selebrita, dia merasa puas atas respon blogger pada saat dia tampil.

Aku bilang mungkin, selain karena aku tidak mengikuti hingga akhir acara, aku juga tidak ikut pada pesta tahun lalu. Oleh sebab itu, tidak memiliki perbandingan antara keduanya. Terima kasih buat kerja keras panita yang telah membuat pesta ini menjadi nyata. Mudah-mudahan tahun depan aku bisa hadir lagi :-D.

p.s.: selama kehadiranku yang singkat itu, ada juga peserta yang mencatat alamat blog sederhana ini. hehehehehe

terpikir wartawan gagap pasar modal

Satu lagi contoh bahwa, bahkan wartawan media ngetop juga belum mengerti sepenuhnya mengenai Pasar Modal.

detik Finance: Barometer Bisnis Anda | Transaksi IHSG Cuma Rp 1 Triliun

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Apa yang diperdagangkan di Bursa dan diambil sebagai barometer aktivitas transaksi pasar modal, hingga saat ini barulah efek. Efek bisa berarti saham, right, waran, obligasi dan lainnya. Hingga dengan tulisan ini diposting, di Bursa Efek Indonesia, efek bernama IHSG belum pernah ditransaksikan….

terpikir layanan pelanggan vs layanan dodol

Aku mendapatkan satu telepon genggam dari istri, sebagai hadiah ulang tahun. Telepon merek dari Finlandia seri yang diiklankan sebagai seri yang pas untuk digenggam oleh ‘orang yang sibuk’. Karena semua ‘aktivitas kerja jaman sekarang’ bisa dilakukan dari telepon genggam tersebut.

Tertarik dengan iklannya, segera aku berniat untuk mendedikasikan telepon genggam tersebut dalam aktivitas jaringan pertemanan yang sedang aku gemari akhir-akhir ini. Untuk itu tentu saja aku membutuhkan kartu telepon yang mendukung. Aku segera teringat dengan penyedia jasa layanan seluler yang baru-baru ini mengganti Luna Maya dengan monyet, sebagai bintang iklan mereka. Pesan iklannya jelas, tidak perlu mikir dalam memilih mereka. Alasan lain juga, karena aku telah menggunakan layanan penyedia jasa saingannya. Jadi sekalian untuk diversifikasi dan agar ada cadangan apabila salah satu bermasalah.

Pengaktifan kartu berlangsung sebagaimana biasa kartu prabayar. Daftar nama, alamat dan sebagainya. Setelah itu aku mendapat pesan mengenai aktivasi fasilitas GPRS yang tentunya sangat berguna dalam aktifitas berinternet. Aku mencoba mengikuti setiap petunjuk yang diberikan. Karena untuk penyedia layanan selular ini, termasuk asing buatku. Hampir sebagian besar keluargaku menggunakan layanan saingannya yang memiliki warna korporasi merah.

Ternyata apa yang terjadi tidaklah semudah iklan. Fasilitas yang aku inginkan tidak tersedia. Setiap aku mencoba melakukan akses dengan telepon, muncul pesan bahwa paket data tidak tersedia. Sebagai awam, aku menghubungi layanan pelanggan mereka. Takut, aku salah dalam menata layanan. Maklum keduanya, baik telepon maupun kartu merupakan hal yang baru buatku. Ternyata tidak ada masalah. Berdasarkan konfirmasi dari layanan pelanggan tersebut semua sudah benar.

Aku menunggu. Untuk sementara aktifitas jaringan pertemanan itu masih aku lakukan di telepon lama yang masih dari merek yang sama.

Setelah beberapa jam, aku mencoba lagi. Ternyata belum berhasil. Pesan masih sama. AKhirnya aku mencoba kembali menghubungi layanan pelanggan. Setelah menerangkan bahwa aku baru mengaktifkan kartu mereka, si mas yang menjawab teleponku mengatakan bahwa akan mencoba melihat apa yang terjadi. Dia bilang, ternyata fasilitas GPRS kartuku belum aktif. Dia akan mencoba mengaktifkan. Aku mengucap terima kasih. Sambil kembali menunggu.

Malam hari, aku mencoba lagi fasilitasnya. Ternyata masih belum aktif. Kembali aku menghubung layanan pelanggan. Dikatakan oleh mbak-mbak, sebenarnya fasilitas sudah aktif. Namun untuk lebih mengoptimalkan hasilnya, si mbak minta setelah menelepon, aku menonaktifkan teleponku selama sepuluh menit. Oke, aku lakukan,kataku. Aku tanya, sebenarnya apa masalahnya mbak?. Si mbak bilang, menurut informasi dari bagian teknis, memang ada maslah dalam jaringan mereka. Maksimal akan terjadi dalam satu dua hari. Waktu aku tanya selama dua hari, fasilitas ini tidak dimanfaatkan? si mbak bilang, maksimal Pak. Belum tentu selama itu. Hmm…ok. benar juga si mbak.

Setelah cukup waktu, aku menyalakan telepon dan mendapati hasilnya ternyata belum berhasil. Sepertinya kesabaranku sedang diuji. Okelah, toh aku masih bisa berhubungan dengan internet melalui telepon yang lama.

Hari ini, sebanyak dua tiga kali aku mencoba GPRS dari penyedia layanan selular yang menggunakan semboyan nyambungterus itu. Ternyata belum juga berhasil. Kesalku menuntun untuk menelepon sekali lagi. Jawaban yang aku terima hampir sama dengan semalam. Hanya bedanya, si mbaknya bilang, waktu non aktifnya lima menit. Saat aku sampaikan bahwa semalam, jawaban yang sama aku terima, si mbak bilang lagi soal gangguan jaringan. Dan katanya maksimal besok pagi sudah ditangani.

Ternyata ada kemajuan. Waktu non aktif telepon lebih singkat. Soal jaringan seperti kata si mbak, besok pagi beres. Itu berarti ada kemajuan. Telepon aku matikan. Aku menulis postingan ini di telepon lama. Besar tombol papan kuncilah yang membuatku masih melakukan postingan ke blog dari sini.

Yang terpikir buatku adalah, layanan pelanggan. Sepertinya baik sekali mereka melakukan perbaikan atas sesuatu yang sebenarnya sudah bisa ditata sendiri oleh pelanggan. Buatku hal tersebut hanya upaya untuk menghibur pelanggan atas ketidakmampuan mereka melakukan pelayanan prima. Selain itu ada kesan yang aku tangkap dari pembicaraan dengan si mbak atau si mas. Bahwa apabila ternyata layanan prima yang mereka lakukan lewat ‘bantuan optimalisasi’ maka mereka sedang mencari kambing hitam bernama jaringan.

Setelah posting tulisan, telepon baru itu akan aku nyalakan. Mudah-mudahan memang sudah berhasil. Kalau belum juga, aku berpikir untuk mengganti penyedia jasa layanan selular saja. Daripada disuruh bolak balik menelepon layanan pelanggan. Selain itu juga, aku bukan monyet seperti iklan mereka. Karena aku bisa berpikir. Pada saat penyedia jasa membebaskan panggilan kepada layanan pelanggan, mereka mengenakan tarif Rp 350 per panggilan. Mungkin nilainya kecil. Namun untuk ukuran kartu yang baru diaktifkan, nilai segitu akan terasa besar. Karena aku belum menggunakan fasilitas GPRS mereka sedikitpun.

terpikir usia tigapuluh tujuh

Tigapuluh tujuh! Waks…hanya tiga tahun lagi mencapai kepala empat. Usia dimana [seperti kata pepatah asing] kehidupan bermula. Nope. Aku gak percaya istilah ‘life’s begin at fourty’ itu.

Buatku, hidup bermula sejak saat terakhir dimana aku masih mengingat sedang apa aku saat itu. Dan terus terang, entah kenapa yang teringat adalah saat aku bersama adik-adik, berkeliling sambil rebahan di sekitar kepala almarhum Bapak yang juga sambil rebahan, mendengarkan beliau membacakan majalah buat kami. Aku mengingat saat Bapak tersinggung anaknya ditonjok orang sewaktu ramai-ramai menonton televisi di malam hari melalui jendela rumah tetangga. Besoknya, giliran kami yang punya televisi :-).

Aku mengingat, diantar Mama untuk bersekolah di taman kanak-kanak, tetapi aku menangis dan berlari keluar kelas begitu mengetahu Mama tidak bisa menemani di dalam kelas. Sehingga aku tidak pernah mengalami masa taman kanak-kanak. Aku mengingat pernah memasukkan biji kembang pukul empat kedalam hidungku, sehingga akhirnya dikeluarkan di rumah sakit umum Kabanjahe.

Aku mengingat pernah di tengah perjalanan pulang sekolah di kelas satu, sakit perut tidak tertahan dan akhirnya pulang sekolah sambil jalan mengangkang karena di celanaku, ada kotoran. Juga aku mengingat dibonceng seorang teman dengan sepeda mini pertamaku. Ketika sepeda dikayuh kencang, kaki kananku masuk ke jari-jari belakang dan merobek cukup lebar kulit atas telapak kakiku.

Ingatan-ingatan yang kalau dituliskan, mungkin tidak ada apa-apanya dibanding Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Namun tetap membuatku tersenyum sendiri saat mengingatnya. Saat itulah kehidupan bermula buatku. Mengenai kehidupan bagaimana yang akan dimulai tiga atau empat tahun yang akan datang, pastinya setelah mengalaminya aku rasakan.

Yang pasti saat ini aku harus berterimaksih kepada Pemberi Hidup, karena masih diberi satu lagi pertambahan usia. Bersyukur memiliki keluarga kecilku [yang telah lelap tidur saat aku menulis ini]. Istri yang sedang mengandung anak kedua [yang kata dokter, berdasarkan USG hari Jumat berkelamin laki-laki], Yeremia yang sebelum kalimat ini ditulis ngompol [dan aku musti mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan menulis], almarhum Bapak dan Mama, yang saat kutelepon dua jam sebelum tanggal berganti sempat hendak nyolong mengucap selamat di sela ‘curhat’annya. Orang tua yang dengan keterbatasan dan kelebihan yang mereka miliki mengajarkan kami anak-anak, [sekarang plus] menantu dan cucunya agar selalu berusaha menjadi orang baik. Adik-adikku [plus dua ipar dan satu ponakan saat ini].

Bersyukur memiliki mertua yang sering lupa kalau aku menantunya [karena buat mereka aku adalah anaknya juga], keluarga iparku di Kebonjeruk dan [masih satu] ponakan yang pernah menyapaku dengan sebutan ‘amangbolu lambutan manis’. Iparku di Cibubur yang nyonyanya, Jumat pagi sudah mengirim MMS ucapan selamat lengkap dengan musik dan gambar pengganti Luna Maya di iklan XL. Entah bagaimana keputusan soal saweran makan-makan ulangtahunnya. Karena ketiga menantu mertuaku berulangtahun di bulan yang sama, hanya berselisih dua hari. Tanggal sembilan, duabelas dan limabelas November :-).

Inilah ucapan syukurku di usia tigapuluh tujuh.

 

January 2009
M T W T F S S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

blog yang seblog

Blogroll

terpikir orang lain

kategori terpikir

baru terpikir

spam terhadang

Archives

Top Browsers

Top OS

Visitors Online